Google dan Shein Didenda CNIL, Siapa Paling Boncos? Dendanya Bikin Geleng-Geleng

Dexop.com – “Google dan Shein Didenda CNIL” kini menjadi salah satu berita paling panas dari Eropa. Pada awal September 2025, publik dikejutkan oleh keputusan otoritas perlindungan data Prancis (CNIL) yang menjatuhkan denda rekor hingga 475 juta euro atau setara Rp8,5 triliun kepada dua raksasa global: Google dan Shein.
Bagi Google, ini bukan kali pertama kena gebuk regulator. Tapi kali ini jumlah dendanya jauh lebih besar dibanding tahun-tahun sebelumnya. Sementara itu, bagi Shein, ini menjadi tamparan keras pertama yang langsung menguji reputasi mereka sebagai brand fast fashion yang sedang naik daun.
Mengapa mereka bisa terkena denda sebesar itu? Apa dampaknya bagi pengguna internet? Bagaimana imbasnya bagi industri global, termasuk di Indonesia? Mari kita ulas tuntas.
CNIL dan Perang Melawan Pelanggaran Privasi
Sebelum membedah kasus “Google dan Shein Didenda CNIL”, penting memahami siapa CNIL.
CNIL (Commission nationale de l’informatique et des libertés) adalah otoritas independen Prancis yang mengawasi perlindungan data pribadi. Lembaga ini punya sejarah panjang dalam menindak perusahaan yang melanggar aturan privasi digital.
Selama lima tahun terakhir, CNIL semakin agresif setelah Uni Eropa menerapkan GDPR (General Data Protection Regulation), regulasi privasi paling ketat di dunia. GDPR menuntut setiap perusahaan yang beroperasi di Eropa untuk mendapatkan persetujuan eksplisit, bebas, dan terinformasi dari pengguna sebelum mengolah data pribadi.
Cookies—file kecil yang disimpan oleh website di browser pengguna—menjadi salah satu titik krusial dalam pengawasan. Karena cookies dapat melacak kebiasaan browsing, hobi, hingga preferensi belanja seseorang, ia menjadi “harta karun” bagi perusahaan berbasis iklan digital maupun e-commerce.
Namun, tanpa izin jelas, penggunaan cookies bisa dianggap pelanggaran serius. Dan di sinilah Google dan Shein terjerat.
Kasus Shein: Fast Fashion, Fast Tracking?
Shein, brand fast fashion asal Tiongkok yang kini bermarkas di Singapura, menjadi sorotan karena CNIL menemukan praktik cookies mereka sangat agresif.
Pelanggaran yang ditemukan:
- Shein mengumpulkan data 12 juta pengguna bulanan di Prancis.
- Persetujuan pengguna tidak pernah diminta dengan jelas.
- Informasi soal apa saja yang dikumpulkan tidak transparan.
- Tidak ada opsi yang mudah untuk menolak atau mencabut persetujuan cookies.
Dengan kata lain, pengguna seperti dipaksa “telanjang data” begitu membuka aplikasi atau situs Shein.
Hukuman CNIL:
Shein diganjar 150 juta euro (sekitar Rp2,7 triliun). Meski jumlahnya masih di bawah Google, ini adalah denda pertama sekaligus terbesar yang pernah dijatuhkan CNIL kepada perusahaan fast fashion.
Shein mengaku sudah memperbarui sistem agar sesuai dengan hukum Prancis dan Eropa. Namun, mereka menyebut denda itu “tidak proporsional” dan berencana mengajukan banding.
Kasus Google: Ketiga Kalinya, Denda Makin Berat
Jika Shein terkejut, Google mungkin sudah terbiasa. Tapi kali ini berbeda.
Rekam jejak denda Google di Prancis:
- 2020: Denda 100 juta euro.
- 2021: Denda 150 juta euro.
- 2025: Denda 325 juta euro (rekor tertinggi).
Google dianggap melakukan sejumlah “kelalaian serius” terkait cookies.
Pelanggaran utama:
- Cookie Wall
Saat membuat akun Google, pengguna diminta setuju dengan pelacakan cookies. Tanpa klik “setuju”, pengguna tidak bisa lanjut. CNIL menilai ini bukan persetujuan bebas, melainkan paksaan terselubung. - Iklan di Gmail
Sekitar 53 juta pengguna Gmail di Prancis menjadi korban praktik iklan tersisip di inbox tanpa persetujuan sah. CNIL menilai ini melanggar prinsip direct canvasing yang harusnya butuh izin eksplisit.
Ancaman Tambahan:
Google diberi waktu 6 bulan untuk memperbaiki sistem. Jika tidak, CNIL akan menambahkan denda 100.000 euro per hari.
Bisa dibayangkan, sehari telat saja Google harus merogoh Rp1,8 miliar lebih.
Dampak untuk Pengguna Internet
Bagi sebagian orang, denda raksasa mungkin terdengar seperti urusan korporasi semata. Tapi sebenarnya, kasus “Google dan Shein Didenda CNIL” punya implikasi langsung ke jutaan pengguna internet.
1. Kesadaran Privasi Meningkat
Pengguna mulai sadar bahwa setiap klik “setuju cookies” punya konsekuensi. Data browsing bisa dipakai untuk menayangkan iklan, memengaruhi keputusan belanja, bahkan memprofilkan pribadi Anda.
2. Hak Menolak Jadi Lebih Jelas
Ke depan, perusahaan dipaksa memberi opsi yang lebih mudah: terima atau tolak cookies dengan satu klik. Tidak boleh lagi ada opsi yang tersembunyi di balik 10 layer pengaturan.
3. Tekanan ke E-Commerce dan Tech Giants
Perusahaan teknologi maupun e-commerce akan lebih berhati-hati. Kalau tidak, risiko terkena denda miliaran euro selalu mengintai.
Reaksi Resmi Google dan Shein
Google:
“Keputusan ini akan kami pelajari dengan cermat. Kami selalu berusaha menyeimbangkan pengalaman pengguna dengan kepatuhan terhadap hukum.”
Pernyataan ini bernuansa hati-hati. Google jelas tidak ingin perang terbuka dengan regulator Eropa, tapi juga enggan mengakui kesalahan secara gamblang.
Shein:
“Denda ini sangat tidak proporsional mengingat sifat keluhan dan kepatuhan sistem kami saat ini.”
Shein memilih melawan dengan banding. Mereka khawatir reputasi brand fast fashion bisa tercoreng di mata konsumen Eropa yang sudah kritis soal etika bisnis.
Analisis Ekonomi: Boncos atau Biaya Operasional?
Apakah denda ratusan juta euro membuat Google dan Shein goyah?
- Google: Pendapatan iklan global 2024 mencapai lebih dari 200 miliar dolar AS. Denda 325 juta euro mungkin “hanya” setara kurang dari 0,2{434ad42460b8894b85ebc3d80267f59d627a35386349d397b0df6ee312634ded} dari laba tahunan. Dalam bahasa korporasi, ini bisa dianggap biaya operasional.
- Shein: Kondisinya berbeda. Meski Shein tumbuh pesat dengan valuasi di atas 60 miliar dolar, margin keuntungan mereka jauh lebih tipis. Denda 150 juta euro jelas lebih terasa, terutama di tengah persaingan ketat dengan Temu dan H&M.
Jadi, siapa paling boncos? Dari sisi angka absolut, jelas Google. Tapi dari sisi beban proporsional terhadap bisnis, Shein mungkin lebih sakit kepala.
Efek Domino Global
Kasus “Google dan Shein Didenda CNIL” bukan sekadar masalah lokal Prancis. Ada potensi efek domino:
- Uni Eropa
Regulator di Jerman, Italia, dan Spanyol bisa mengikuti langkah CNIL. Bahkan Komisi Eropa bisa menggunakan kasus ini sebagai preseden untuk regulasi baru. - Amerika Serikat
Meski regulasi privasi belum seketat Eropa, tekanan publik semakin besar. Kasus ini bisa mendorong lahirnya undang-undang privasi federal. - Asia
Negara-negara seperti Jepang dan Korea Selatan sudah punya aturan privasi kuat. Indonesia juga sedang mengimplementasikan UU PDP (Perlindungan Data Pribadi). Kasus Google dan Shein bisa jadi contoh bahwa regulator tidak ragu menghantam perusahaan global.
Tren Masa Depan: Privasi vs Bisnis
Keputusan CNIL menegaskan bahwa era “data free-for-all” sudah berakhir.
- Bagi Google dan perusahaan big tech:
Mereka harus mencari cara baru menayangkan iklan tanpa melanggar privasi. Misalnya, teknologi privacy sandbox yang sedang diuji Google. - Bagi Shein dan e-commerce:
Mereka harus lebih transparan dalam menjelaskan bagaimana data konsumen dipakai. Jika tidak, ancaman boikot bisa datang dari konsumen maupun regulator. - Bagi pengguna internet:
Kita akan lebih sering melihat pop-up pilihan cookies yang jelas. Meski kadang terasa mengganggu, itu bagian dari hak privasi yang dilindungi hukum.
Momentum Baru untuk Privasi Digital
Kasus “Google dan Shein Didenda CNIL” adalah momentum besar dalam sejarah internet modern.
Bukan hanya soal angka denda yang bikin geleng-geleng kepala, tapi juga soal prinsip: data pengguna bukan komoditas gratis yang bisa diambil seenaknya.
Google mungkin bisa membayar denda tanpa banyak berkeringat. Tapi reputasi mereka tetap tercoreng. Shein mungkin akan lebih berat, karena brand fast fashion itu kini harus berjuang meyakinkan publik Eropa bahwa mereka bukan sekadar mesin pengumpul data.
Bagi kita sebagai pengguna, kabar ini justru positif. Artinya, hak kita atas privasi semakin diakui, dan perusahaan global tidak lagi bisa seenaknya memperlakukan data kita.
Era baru internet sedang dimulai—dan CNIL baru saja menyalakan alarm besarnya.



